Pohon cabe di belakang rumahku…

Sepotong Kisah dari beranda hikmah

—————–

Taukah engkau, Allah menciptakan aku tumbuh disisi rumahmu untukmu… Untuk kau nikmati ketika engkau tidak berdaya terbentur ditembok takdir…”

—————–

hmmm, dirumah kontrakanku itu, rumah yang kudiami saat ini adalah rumah mungil di pinggiran kota Tanjung Balai Karimun. Agak terpisah jauh dari keramaian dan deru bunyi kendaraan bermotor.   Adem, dan yaman huni. Rumah mungil yang kudiami bersama keluarga kecilku adalah rumah type 36.   Type.. heheh… sungguh aku juga ngg ngerti itu hanya kata temenku yang kebetulan pernah berkunjung yah, begitulah adanya.   Sebagai rumah kontarakan tentu saja tidak punya halaman luas seperti halaman rumah dikampungku yang punya halaman sejauh mata memandang hingga terbentur kebibir rawa.   halamannya hanya berukuran tidak lebih sepetak semaian padi atau pembibitan plasma. plus dibelakangnya ada lebihan tanah curah hujan kurang dari satu meter. disudut lebiha tanah itulah, tumbuh liar sebatang pohon cabe hijau yang lazim dijadikan sambal buat resep ikan lele bakar ala lesehan.

Rumah nyaman huni buat keluarga kecilku memang indah. lantainya keramik, sirkulasi udara nyaman dan ngg perlu pendingin udara (memang ngg kebeli).  Hanya… jika senja menjelang nyamuknya yang ngg ketulungan.   wah, nyanyian sayapnya pun terdengar gemuruh seperti pesawat tempur reedcros, aerobaticshow Inggris yang melakukan manuver rolling back yang ketinggiannya hanya hitungan meter dari permukaan bumi.    Menderu dan mencericit di telinga. Bedanya, ya hanya reedcros akan membuat kita terkagum kagum, tapi tuh nyamuk melambungkan emosi hingga ke pucuk-pucuk rambut. Sebenarnya, nyamuk yang banyak berkeliaran tidaklah terlalu sering. Hanya jika kebetulan siangnya turun hujan. Seperti juga senja itu yang baru saja bumi usai diguyur hujan. Nyamuk menjadi rame dan beringas.   Memang, telah kuantisipai pada beberapa hari sebelumnya.   Telah kubeli sebotol baygon plus semprotannya.

Dan ketika waktunya tepat, persediaan itu pun kumanfaatkan.  Tampa piker panjang semprotan baygon itu kuisi penuh dan lalu memulai aktifitas pembasmian.  Mengingat anakku yang masih kecil kecil dan takut keracuna dari udara yang dihirup. Penyemprotan hanya kulakukan pada bagian luar rumah. Dimulai dari pinggir rumah sisi kiri dan kanan dan berakhir pada halaman satu meter belakang.    Nah, persis ketika berada dipojokan kulihat tanaman bunya berikut pohon cabe banyak dihinggapi nyamuk.  Semprotan demi semprotan muncrat begitu saja tampa ampun.   Tidak terkecuali pohon cabe juga kebagian siraman pembasmi serangga itu.   Ketika menyemprot tanaman cabe yang dihinggapi nyamuk sebenarnya dihatiku telah terbersit untuk tidak menyeprotnya terlalu banyak.  Takut jika cabenya ikutan mati oleh pembunuh serangga itu.  Namun, terlitas dipikiran…

“ah, peduli apa… toh yang suka cabe cumin istriku”

Aku bukan tipe penggemar cabe dan sambal sambalan.   Bagiku itu resep makanan pengganggu cita rasa yang seharusnya tidak menyiksa rongga mulut dan tenggorokan.   Karenanya, sambal jarang sekali tersaji dimeja makan.   Lebih dari itu aku sendiri tidak tahan dengan lambung yang terasa mengiris jika mengkonsumsi cabe.  Demikian ketika menyemprot nyamuk yang hinggap di pohon cabe dalam pikiranku pohon itu tidak akan memberikan manfaat apa apa.   Dan tidak akan kukonsumsi hingga pohon itu mati kekeringan sekalipun dengan buah yang lebat sekalipun.   Dimataku pohon cabe yang berbuah lebat itu tidak lebih dari gulma pengganggu.   Dan tidak pantas hadir diantara mekarnya bunga bunga tanaman istriku.

Lalu…

Sebagai seorang pengguran yang hanya berharap dari usaha yang masih berjalan dikampung dan dikirimi saban butuh, tentu keuangan tidak jarang mengalami kendala alias tak punya uang terjadi pada hari itu.  Hari dimana aku tidak punya keberanian untuk mangkal barang sepeminuman teh di pelabuhan karena takut pada petugas parkir yang pasti mengharap uang receh lima ratus rupiah.  Uang receh buat parkir motor bututku yang ketika itu harus mengantar ponaan ke Pulau Batam.  Hari dimana uang hanya cukup buat membeli satu kilo beras, ikan asin plus satu butir telor buat dadaran anakku.  Hari terindah yang menyisakan kenangan dan hikmah.

Hari dimana istriku hanya menyodorkan padaku satu pinggan nasi plus goring ikan asin yang dilumuri sambal cabe hijau.  Hah, sambal cabe, bisikku dalam hati. Ingin sekali sebenarnya menolak makanan siang satu satunya yang ada pada hari itu.  Tapi kepikir itulah rezeki yang ada yang dapat kunikmati. Adalah sangat sombong menolak makanan tersaji ketika sama sekali tak punya alternatif lain buat pengganti penggajal perut yang terasa mulai harus terisi. Meskipun makanan itu sama sekali tidak mengundang selera.  Apa lagi bagiku kehadiran sambal cabe hijau menjadi biang keladi.  Momok yang menghilangkan selera makanku serta merta pada hari lain yang kebetulan dikocek masih terisi dan berlebih.

Apa boleh buat, inilah rezeki yang ada pada hari ini.   Dengan sedikit memicingkan mata kucoba menikmati hidangan itu dengan apa adanya.   Dan… ketika sambal cabe hijau menyentuh lidah.  Terasa nikmat yang luar biasa… tidak pernah kumerasakan enaknya makan seperti siang itu.

Aku terkaget, berusaha menyakinkan diri. Benarkah cabe ini nikmat..?  apakah aku tidak salah makan? Aduh, benerkah ini cabe…? Kuamati sisa sambal yang masih ada piring, bener… inilah cabe itu.  Cabe yang kusemprot baygon beberapa hari lalu… Kuhentikan makanku sejenak, dan memanggil istriku. Padanya kutanyakan dari mana asal cabe itu. Istriku tidak berkata dan hanya menunjuk kesatu arah sambil berlalu.  Ke arah mana tumbuh sebatang pohon cabe berbuah lebat yang sekarat oleh siraman pemusnah hama yang kusemprotkan beberapa hari lalu. Kuhentikan makanku, kuraih gelas air dan kuminum sambil berjalan.   Bergegas keluar rumah, kebelakang… kehalaman satu meter itu.

Dipojok itu, sebatang pohon cabe yang berdaun menguning bergoyang melambai.  Melambai kearahku.  Seperti seorang gadis yang dulunya ayu serta merta terkena lepra disekujur tubuh oleh satu musim panas pembawa kuman.  Menangis, merintih tapi tetap tersenyum.    Kudapatkan ia, disisinya aku terduduk.  Kuperhatikan sekujur tubuhnya yang luluh melepuh. Jemarinya yang dulu halus lembut kini berbalut kulit keriput seperti termakan usia. Ia mengadu, menceritakan nasibnya yang telah mengalami satu musim yang sungguh sangat menyiksa.  Dan… akulah musim itu, musim panas pembawa kuman yang menghilangkan keayuannya Pohon cabe itu masih tergar berdiri.  Dengan sisa tenaga yang ia punya. Ditelingaku…  persis ditelingaku..  dia berbisik…

“Taukah engkau,  Allah menciptakan aku tumbuh disisi rumahmu untukmu… Untuk kau nikmati ketika engkau tidak berdaya terbentur ditembok takdir…”

Aku menangis…  menyesali diri…  inilah rahasiaMu ya Allah,  rahasia yang tidak kutahui…   Ia akan datang tepat pada waktunya…

MEMORALIBIA II : akan indah pada waktunya

Aku ingin menulis ini kawan…
sebuah kisah yang mungkin tidak begitu menarik. Tapi jika sedang tidak sibuk, bolelah membaca tulisanku ini sekedar mengisi waktu..

Aku ditakdirkan terlahir dari keluarga yang tidak kaya tapi juga tidaklah bisa digolongkan miskin. Hidup berkecukupan adalah sesuatu yang pantas untuk kami sekeluarga syukuri. Saya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menjalaninya dengan biasa-biasa saja. Tidak ada satu kejadian yang istimewa seperti yang selalu terjadi pada sebagian orang. Seperti pada kisah Ma Yan, Laskar Pelangi atau Negeri Lima Menara… Mereka adalah pejuang yang mendobrak segunung persoalan untuk meraih sukses. Akan halnya diriku kawan… hehehee tidak. Mungkin karena itu prestasiku juga sedang-sedang saja (padahal mang bongol wkwkwkw). Oh ya, waktu kuliah aku adalah mahasiswa manja. Hampir setiap minggu aku menerima suntikan dana dengan beragam alasan. Beli inilah, beli itulah, bayar inilah.. bayar itulah.. tidak jarang juga aku berbohong pada orang tua sekedar untuk mendapatkan sejumlah uang yang sebenarnya tidak terlalu aku butuhkan. Suatu waktu ayahku menghubungiku lewat telphon (zaman itu hp belum ada coy…) dan mengeluh karena kelakukanku. Ya, seperti tidak punya beban kusampaikan aja padanya…

”Pak, siapa lagi yang akan menghabiskan harta Bapak kalau bukan aku…”

Ayahku terdiam dan kutau persis seperti apa mimiknya disebelah sana…
dia akan merengut, menelan ludah dan membasahi kerongkongannya yang tidak kering lalu dalam hatinya berbisik…

“ckckck… anakku..”

Okelah, aku kira cukuplah aku bercerita tentang masa laluku. Sekarang mari kita simak satu kisah ini kawan…
Continue Reading

SUBHANALLAH

Kutulis ini semata-mata hanya sebuah kerinduan yang mungkin terlalu berlebihan.  Tapi bagiku kawan, ini sesuatu yang amat berarti…

Beberapa malam yang lalu aku terjaga dari tidur.   Aku tidak begitu pasti jam berapa yang jelas berkisar antara jam 2 dini hari.  Kubangkit dari pembaringan dan menuju kamar mandi kubasuh wajahku dengan air yang dinginnya menusuk tulang.    Usai wudhu kutunaikan qiyamullail, lafaz demi lafaz keluar dari bibirku.  Hanya ayat-ayat pendek Al Fatihah disusul Al Ikhlas pada rakaat pertama dan An Nas pada rakaat berikutnya.  Singkat dan sangat singkat… usai, kupanjatkan doa pada Rabb yang menciptakan.  Kucurahka segala rasa yang ada didada, kusampaikan betapa gamangnya aku meniti hidup. Segala beban yang ada didepan mata disetiap harinya kuceritakan juga.  Aku lupa, mungkin doaku lebih tepat disebut curhat dari doa sesungguhnya.  Aku mengadu, memohon, meminta dan menghiba.  Seperti seorang anak kecil yang merengek meminta jajan pada ibunya…   Sungguh itu mungkin tidak pantas tapi aku tidak tau lagi doa apa yang pernah diucapkan kanjeng Nabi yang mungkin seperti harapanku.  Aku berdoa dengan bahasaku…

Continue Reading

Sepenuh Rasa Syukur

Syukurku…

Ya Allah… kekalkanlah kalimah itu dalam lafaz lidah dan hatiku

Deru kapal melaju meninggalkan buih-buih yang kian menjauh. Hempasan ombak pada lambung kapal terasa seperti sedang mengayun dan menina bobokkan. Kulirik istriku yang duduk berbesebelahan dengan sikecil Gina masih juga asyik memperhatikan beberapa burung camar yang tampak terbang rendah disisi kiri kapal. Diluar, angin berhembus kencang menyonsong laju kapal yang begitu gagah menaklukkan gulungan ombak meniti titian arus. Kusadar aku begitu lelah, dan kantuk terasa menyergap menyusup masuk kesetiap persendian yang mulai melemas.

Mataku terkatup, aku tertidur… lalu, aku terjatuh dilantai kapal, terjerebab… membuat seisi kapal berisik gaduh tertawa melihatku yang jatuh duduk dalam kondisi setengah sadar dari tidur yang melenakan. Kuperbaiki posisi dudukku dan kembali menempati kursi yang sebelumnya kutempati. Istriku tersenyum… kasian melihatku.

Kusadarkan diri, istigfar berkali-kali… terakhir, aku bersyukur dan berucap…

“alhamdulillah….” dihati kecilku berdoa,

“ya Allah… kekalkanlah kalimah itu dihati dan bibirku. Kapapun, sadar, tertidur atau dalam posisi apa saja aku menjalani hidup ini hingga akhirnya aku menghadapMu…”

sekali lagi aku bersyukur dengan sepenuh hati… betapa tidak, ketika terjatuh… dalam kondisi tertidur atau setengah sadar… persis disaat akan membentur lantai… bibirku berteriak,

“La ilaa ha illallah….!!”

Ya Allah, Tuhanku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… jadikanlah hati ini senantiasa bertasbih padaMu, memohon redha dan ampunanMu…

MEMORALIBIA

Hari ini ku mecoba berselancar di laman maya berhapa menemukan artikel bagus buat dibaca. Sambil melirik laman facebook yang berada di tab paling sebelah kiri dilayar monitorku. Ada komentar dari seorang teman. Seorang teman yang dulu pernah meminjamiku sebuah buku, MA YAN itu judul bukunya. Sungguh mengesankan, selesai saja membaca buku itu aku hanya bias menarik napas panjang. Lalu kemudian menengadah kelangit-langit kamar, menembus, menyeruak ke angkasa yang tak bertepi. Ingin segera kukabarkan bahwa di negeriku, dinegeri bertema Indonesia teradap sejuta Ma Yan juga hidup dengan sejuta mimpi…

Continue Reading

Orang-orang yang didoakan Malaikat

sumber : http://khairunnisahafizhah.multiply.com

Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28) Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

Continue Reading

Nomor Tiket, Alangkah Bodohnya Aku

kalau engkau melihatku kawan, jangan pulalah engkau ikutan tertawa

Hmmmm… hampir tiga puluh menit aku menunggu keberangkatan kapal terakhir yang melayani rute Batam ke Tanjung Balai Karimun. Berarti juga hampir tingga puluh menit aku berdiri mengantri tiket yang kemungkinan kudapatkan sangat tipis sekali. Calon penumpang yang memadati pelabuhan ternyata tidak sebading dengan jumlah kursi yang tersedia. Beberapa orang mulai terlihat gerah. Sebagian lagi ada yang justru kasak kusuk menggerutu. Menyesalkan pelayanan penjualan tiket yang menurutnya tidak senyaman dulu. Kuperhatikan dengan seksama, mereka tidak lagi berdiri layaknya mengantri lebih memilih berdiri melingkar seperti sedang sarasehan. Dari pembicaraan mereka aku mengetahui bahwa mereka merasa lebih nyaman jika tiket tidak memiliki nomor kursi seperti beberapa bulan sebelumnya. Artinya, mereka merasa lebih nyaman jika setelah menaiki kapal mereka bisa duduk dimana saja sesuka hati mereka tampa harus menempati kursi tertentu.

Continue Reading

Investasi bukan spekulasi

Taufik Gumulya – detikFinance
http://www.detikfinance.com/read/2010/02/10/082808/1296385/722/investasi-bukan-spekulasi

Kusimpan disini aja artikel ini biar ngg hilang

Jakarta – Pembaca yang bijaksana, dalam artikel kali ini ingin saya sampaikan bahwa setelah kita melakukan evaluasi penghasilan langkah selanjutnya adalah melakukan perencanaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan finansial dikemudian hari.

Sebelum kami membahasnya, ingin kami menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan artikel yang lampau. Banyak yang menyatakan bahwa contoh pada artikel yang lalu jumlah penghasilannya cukup besar, dapat kami jelaskan bahwa yang terpenting bukan melihat angkanya namun lihatlah formulasinya, kunci utama bukan besarnya penghasilan tetapi terapkan formulasi perhitungan penghasilan sehingga masuk dalam kondisi penghasilan yang wajar.

Continue Reading

Syahidah Riri

Kawan, maukah engkau mendengar kisahku kali ini. Kisah yang mungkin tidak menarik, tapi menurutku kawan, kisah ini sangat pantas dijadikan teladan…

Kuawali kisahku dengan memperkenalkan Syahidah Riri, nama lengkap gadis ayu yang memasuki usia 25 tahun akhir Februari ini. Seorang gadis yang bersahaya yang mengabdikan hidupnya demi kemaslahan manusia lain. Disaat orang lain tidak ambil peduli, disaat itulah ia dengan senang hati menyumbangkan segala kemampuannya demi masa depan anak-anak yatim terlantar. Bukan pula dikampung halamannya, bukanlah ia seorang anak negeri yang begitu bangga dengan sebutan anak watan. Ia seorang gadis rantau yang terpisah jauh dari keluarga. Tergerak hatinya untuk hijrah demi sepenggal kata, ‘lillah..’

Continue Reading

Pernik Pesan Singkat

kutulis ini mengingat pesan singkat yang diterima istriku dari seseorang yang tidak dikenal

SMS adalah juga pesan singkat… seringkali hanya terdiri dari beberapa kata yang cukup mewakili makna. SMS sering juga ditulis dengan huruf yang telah dipermak sedemikian rupa hingga huruf yang seharusnya A berubah menjadi angka 4. Terkadang pesan singkat itu hanya berupa gabungan dua atau tiga buah huruf yang mewakili penulisan sebuah kata secara lengkap, misalnya kata ‘makan’ cukup ditulis ‘mkn’. Ada juga yang ditulis selengkap-lengkapnya, saking lengkapnya tanda baca juga tidak tertinggal. Ragam penulisan ini sebenarnya hanya cara penulisan pesan saja. Tidak terikat oleh kaidah tata bahasa dan asumsi dasarnya hanya pada ‘yang penting penerima sms ngerti apa yang dimaksud oleh pesan itu’. Tapi itulah tekhnik pengiriman pesan terlepas dari cara dan kebiasaan orang menggunakannya. Dalam keseharian SMS menjadi bagian tak terpisahkan dari mekanisme kebutuhan informasi. Sama seperti kebutuhan kita terhadap makan dan minum, bahkan.

Ketika SMS belum ada, 3500 SM, Pictograf adalah trend pengiriman informasi. Orang-orang Funisia dan Sumeria menulis pesan dengan lambang-lambang dalam bentuk gambar. Kemudian ditorehkan diatas lempengan tanah liat. Dibawa lalu dibacakan secara terbuka oleh seorang kurir kepada khalayak ramai sebagai bentuk titah baginda sultan penguasa zaman kuno dinegeri yang payah itu. Yunani adalah bangsa yang memperkenalkan tekhnik penulisan dari kiri ke kanan. 1775 SM, Bangsa Hercules ini mengajari manusia menulis dengan sistem fonetik (lambang bunyi). Pesanpun ditulislah, lalu dikirim ke handai tolan. 1400 SM bangsa Asia menulis sejarah mereka diatas tulang-tulang, itulah bangsa China yang memiliki tamadhun penutur kisah hidup dari raja-raja mereka. 14 M orang Romawi telah mendirikan pos pengiriman surat, dan orang bolelah berkirim berita dari kerabat hingga kekasih tercinta.
Continue Reading